Selasa, 18 November 2014

Heidegger



Sejenak Bersama
HERMENEUTIKA HEIDEGGER
A.    Biografi Heidegger
Martin Heidegger biasa di panggil Heidegger merupakan seorang pemikir yang orisinal dan mandiri. Lahir pada tanggal 26 September 1889 di Messkirch Baden, Jerman. Anak dari seorang ayah yang berprofesi sebagai Pastur di Gereja Katholik Santo Mortus.
Beliau mendapat gelarnya di Universitas Freiburg dalam bidang Filsafat. Ia pernah menjadi seorang Asisten Edmund Husserl (penggagas Fenomelogi), ia juga pernah menjadi seorang guru besar Filasafat di Universitas Masburg. Karya –karyanya beliau ada banyak berikut sebagian karya Heidegger Sein und Zeit (Boeing The Time), merupakan karyanya yang paling monumental, Einfuhrung in Sie Methaphisic.
B.     Latar belakang pemikiran
Pemikiran awal Heidegger di pengaruhi Husserl walaupun begitu usaha Heidegger untuk keluar dari pengaruh Hussrel sangat kuat. Edmund merupakan pendiri dan tokoh utama aliran fenomelogi. Heidegger tertarik dengan pertanyaan ADA. Gagasan tentang ADA berasal dari Parmenindes dan merupakan salah satu pemikiran utama Filsafat Barat. Menurut Heidegger pertanyaan mengenai ADA telah di pengaruhi Metafisik Plato. Beliau mengkritik Descrates “Aku Berpikir, maka Aku Ada”, kemudian ia ubah menjadi “Aku Ada, maka Aku Berpikir. Heidegger mengarah  pada Metakritik atas kritik-kritik Kant, beliau menganggap sebagai tugas penyelidikan yang bersifat Ontologis di bandingkan Logis.
C.     Pemikiran Heidegger tentang Hermeneutika
Hakikat eksistensi menurutnya ialah melampaui dan berada di atas kesadaran subjektivitas, dan Terdapat indikasi bahwa Heidegger menganggap Hermeneutik sebagai Fenomena dengan segala dimensinya yang asli. Tetapi Heidegger membatasi filsafat fenomeloginya dan kembali pada sumber Yunani untuk istilah fenomelogi  dan memandangnya di susun dari 2 unsur yakni Phenomenon dan logos.
Dalam Ontology- Hermeneutik of Facticity, beliau merumuskan proyek penyelidikan fenomelogis yang di sebut sebagai “hermeneutic of Facticity”. Ontologi dalam pemikiran Heidegger tidak di maksud mempelajari ADA dalam arti metafisik tradisional. Yang dilakukan Heidegger adalah kembali kepada ADA yang paling asli ketika ADA belum di salah pahami. ADA-nya Heidegger bertolak dari ADA partikular yang menanyakan ADA, ADA partikular ini di namakan Dasein.
Dasein secara harfiah berarti “ADA-DI-SANA”. Kehadiran Dasein tidak bersifat statis melainkan bersifat bersifat dinamis. Yang dimaksud Ontology menurutnya adalah sebuah penyelidikan mengenai kehidupan taktis dasein sebagai ADA partikular dalam tempolaritasnya.
Contoh fenomena ini ialah hermenetik yang dalam bidangnya menguraikan perjalanan sejarah Diana hermenetik di definisikan ulang sejak masa klasik hingga sekarang, artinya pemahaman tidak didasarkan pada berbagai kategori dan kesadaran kemanusiaan. Tetapi muncul dari manifestasi-manifestasi objek yang kita hadapi berupa kebenaran yang kita persepsikan. Pemahaman ini bukan pemahaman yang stabil(tetap) tetapi yang terbentuk secara historis dan berkembang dalam menghadapi fenomena.
Pemahaman bukanlah potensi untuk merasakan pemahaman pribadi lain. Pemahaman  bukanlah sesuatu yang dapat di hasilkan, namun merupakan salah satu bentuk eksistensi di dunia ini.
Secara alami, teks tidaklah dianggap sebagai ekspresi dari kebenaran internal sebagaimana syair tidak mengungkapkan sisi-sisi internal kepada kita, melainkan dianggap sebagai pengalaman eksistensial. Dalam pemahaman dan interpretasi terhadap teks, kita tidak berawal dari kekosongan melainkan kita memulai dari pengetahuan awal tentang teks. Bahkan mereka tidak memiliki konsep adanya eksistensi seperti pengetahuan ini atau menyangkalnya. Di sisi lain, kita tidak menemukan di luar bingkai ruang dan waktu namun kita dapat temukan dalam situasi yang terbatas.
Heidegger membuat perubahan drastis pada hermeneutik, ia tidak lagi memahami hermeneutik sebagai salah satu bidang pengetahuan instrumental khususnya metodologi penafsiran pada kawasan ilmu-ilmu sosial. Heidegger memahami hermeneutik sebagai bentuk ontologi mengada-di-dalam-dunia dan sebagai cara memandang dunia. Jadi, pusat kajian Hemeneutik Heideggerian adalah Faktisitas Dasein.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar